Gibran Singgung CCS di Debat, Seberapa Efektif Untuk Transisi Energi?


Jakarta, CNBC Indonesia – Calon wakil presiden nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka kembali menyodorkan Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai salah satu solusi untuk transisi energi.

Putera Presiden Joko Widodo itu menyebut hal itu ketika berbicara soal mencapai target netral karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060. Untuk tujuan tersebut, Gibran menyatakan bakal menggenjot program pembangunan rendah karbon.

“Jika kita menyinggung masalah soal karbon, maka kita juga harus menyinggung soal pajak karbon, carbon storage, juga carbon capture. Agenda ke depan tentu kita harus mendorong transisi menuju energi hijau,” ujar Gibran dalam Debat Cawapres 2024, Minggu (21/1/2024).

Secara sederhana CCS adalah teknologi yang dikembangkan untuk menangkap karbon (capture) sebelum lepas ke udara lalu mengurung kembali ke lapisan bumi (storage) sehingga tidak menjadi polusi.

Penangkapan karbon sejatinya memang dapat mengurangi polusi dan emisi yang dikeluarkan, namun dengan adanya sejumlah opsi lain yang lebih murah dan andal, banyak pihak mengkritisi apakah CCS perlu dilanjutkan.

Mengutip laporan Columbia Climate School, secara spesifik teknologi penangkapan karbon telah diajukan untuk pertama kali pada tahun 1938. Lalu proyek skala besar pertama untuk menyuntik kembali CO2 ke bawah tanah diluncurkan di ladang minyak Sharon Ridge di Texas pada tahun 1972.

Selanjutnya, proyek CCS terintegrasi pertama diluncurkan 24 tahun setelahnya oleh Norwegia di Laut Utara yang dikenal sebagai Sleipner.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), secara global lebih dari 30 juta ton CO2 ditangkap dari fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) skala besar setiap tahunnya, dengan lebih dari 70% dilakukan di Amerika Utara. Namun, fasilitas industri tersebut hanya menyerap kurang dari satu persen CO2 yang perlu dikurangi untuk memenuhi target perjanjian Paris pada tahun 2040, mengutip data dari laporan tahun 2018 yang disusun oleh Global CCS Institute.

Teknologi CCS yang melibatkan penggunaan bahan kimia untuk menyerap karbon dalam pembangkit listrik ikut menuai kritik karena teknologinya relatif mahal dan membutuhkan banyak energi. Selain itu, lokasi penyimpanan karbon yang disetujui juga langka. Akan tetapi, beberapa ahli percaya bahwa pendekatan transisi energi melalui CCS masih diperlukan untuk mencapai target pengurangan karbon.

Sejumlah ahli lain mengatakan bahwa penangkapan karbon adalah pengalihan perhatian dari transisi energi ke energi ramah lingkungan yang tidak menghasilkan polutan sejak awal dalam proses pembangkitan energi.

Profesor teknik sipil dan lingkungan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Charles Harvey dalam wawancara dengan The Wall Street Journal (WSJ) mengungkapkan bahwa penurunan harga pembangkitan energi baru terbarukan (EBT) membuat teknologi CCS menjadi semakin kurang atraktif.

Charles bercerita bahwa 15 tahun lalu dirinya adalah bagian dari sebuah perusahaan yang didedikasikan untuk penangkapan dan penyimpanan karbon. Tim tersebut dinilai berhasil menyampaikan kepada investor bahwa CCS adalah teknologi matang yang memberikan cara paling murah untuk mengurangi emisi industri.

Namun, setelah lima tahun berkembang biaya energi terbarukan turun signifikan sehingga opsi lain dinilai Charles lebih atraktif.

“Pada tahun 2014, kami tidak dapat secara jujur menyatakan bahwa CCS adalah pilihan yang baik untuk mengurangi emisi,” ujar Charles.

Dirinya mengungkapkan selama 15 tahun terakhir, miliaran dolar AS uang pajak telah terbuang sia-sia untuk proyek CCS yang gagal menyuntikkan karbon ke dalam tanah.

Jumlah kecil yang telah diserap hampir semuanya untuk meningkatkan perolehan minyak, sebuah proses di mana karbon dioksida disuntikkan ke ladang minyak untuk mendorong lebih banyak minyak bumi keluar dari bawah tanah.

Profesor sejarah sains dan ilmu bumi dan planet di Universitas Harvard Naomi Oreskes menyebut Di masa depan, CCS kemungkinan akan menjadi bagian dari portofolio solusi untuk memperbaiki, dan mungkin membalikkan perubahan iklim.

“Namun saat ini hal tersebut (CCS) mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak untuk mengurangi secara bertahap, dan pada akhirnya menghapuskan bahan bakar fosil yang menimbulkan polusi karbon,” ujar Naomi dalam wawancara dengan WSJ.

Sementara itu Benjamin Longstreth, direktur kelompok lingkungan yang berbasis di Boston Clean Air Task Force mengungkapkan teknologi CCS masih diperlukan, khususnya untuk sejumlah industri spesifik.

“Kita membutuhkan CCS untuk melakukan dekarbonisasi semen, baja, dan pemrosesan kimia,” Ujar Benjamin.

Dirinya mencontohkan dalam pembuatan semen, 60% emisinya merupakan emisi proses, artinya emisi tersebut tetap terjadi tidak peduli bagaimana Anda memanaskan batu kapur – lewat sumber energi apa pun – yang digunakan untuk membuat semen.

Dengan kata lain, dunia masih memerlukan penangkapan karbon untuk mendekarbonisasi proses pembuatan semen meskipun jenis menggunakan bahan bakar atau sumber energi yang berbeda.

Terlepas dari sejumlah pro kontra, data Columbia Climate School mencatat bahwa ssaat ini, terdapat 43 fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon komersial berskala besar di seluruh dunia.

Saat ini Amerika Serikat menjadi pemimpin dalam teknologi dan implementasi CCS. Sejumlah negara yang telah menerapkan CCS termasuk Inggris, Australia, Norwegia, Belanda dan Indonesia, mengutip data EIC Energy Focus.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Ada Transisi Energi, Bayan Sebut RI Masih Butuh Batu Bara

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *