Jokowi Ngamuk Tabungan Tak Diputar Bank, Ini Datanya!


Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo atau Jokowi sempat mengeluhkan mengenai peredaran uang yang semakin kering. Menurutnya  masalah ini muncul karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BI menerbitkan terlalu banyak instrumen, yakni Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).

“Jangan semuanya ramai membeli yang tadi saya sampaikan ke BI maupun SBN meski boleh-boleh saja tapi agar sektor riil bisa kelihatan lebih baik dari tahun yang lalu,” ujar Jokowi di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Kantor Pusat BI, Jakarta, dikutip Kamis (1/2/2024).

Adapun data Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit pada Desember 2023 tumbuh sebesar 10,3% yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,7% yoy.

Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dalam tiga bulan terakhir 2023 terbilang seret. Per Desember, DPK yang dihimpun bank hanya naik 3,8% yoy menjadi Rp 8.234,2 triliun.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terakhir, surat berharga yang dimiliki bank sebanyak Rp 1.970 triliun, naik 5,4% yoy per November 2023. Dengan demikian secara total industri pertumbuhan surat berharga masih lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit.

Bila dirinci, surat berharga yang dimiliki bank BUMN mengalami kontraksi sebesar 6,1% yoy menjadi Rp 756 triliun. 

Pada periode yang sama, kredit yang disalurkan oleh bank swasta tumbuh 10,5% yoy menjadi Rp 2.573 triliun per November 2023. Pada periode yang sama surat berharga bank swasta naik lebih tinggi atau 12,6% yoy menjadi Rp 963 triliun. 

DPK bank swasta per November 2023 sebesar Rp 3.666 triliun, naik 3,7% yoy. 

Kemudian bank pembangunan daerah (BPD), pertumbuhan kreditnya mencapai 7,9% yoy dan surat berharga naik 1,2% yoy. 

Kontras pertumbuhan antara penyaluran kredit dan kepemilkan surat berharga terjadi pada kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri. Penyaluran kredit kelompok bank ini turun 9% yoy, sedangkan surat berharga naik 53% yoy. 

Akan tetapi DPK bank asing kontraksi 6,9% yoy menjadi Rp 245 triliun. 

Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) Taswin Zakaria mengatakan bahwa pihaknya tidak fokus untuk membeli SBN, SRBI, dan SVBI karena likuiditas sangat diperlukan untuk pertumbuhan kredit.

“Memang kita tidak fokus untuk pembelian SRBI SVBI karena likuiditas yang ada pun sekarang sangat diperlukan untuk pertumbuhan kredit. Jadi saya pikir udah benar arahnya ke sana,” ujar Taswin pada kesempatan yang sama.

Ia mengatakan Maybank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 10%-12% tahun 2024.

Adapun per September 2023, Maybank Indonesia menyalurkan kredit dan pembiayaan syariah Rp 112,42 triliun, naik hampir 1%. Pada periode yang sama surat berharga naik 12,87% yoy menjadi Rp 29,43 triliun. 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BI Catat Uang Beredar Rp 8.505 Triliun di Oktober 2023

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *