Rumor Gencatan Senjata Israel-Hamas Bikin Harga Minyak Anjlok 3%


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak kompak bergerak lebih tinggi pada awal perdagangan pagi hari ini, setelah anjlok 3% lebih pada perdagangan sebelumnya karena laporan gencatan senjata yang tidak berdasar hingga penutupan kilang minyak.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Jumat (2/2/2024), harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,12% di posisi US$73,91 per barel, begitu juga dengan minyak mentah brent dibuka lebih tinggi atau naik 0,58% di posisi US$79,16.

Pada perdagangan Kamis (1/2/2024), harga minyak mentah WTI ditutup anjlok 2,68% di posisi US$73,82 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent terperosok 3,68% ke posisi US$78,7 per barel.

Harga minyak turun tajam pada perdagangan Kamis setelah laporan yang tidak berdasar mengenai gencatan senjata antara Israel dan Hamas dan setelah pemadaman listrik memaksa kilang besar Amerika Serikat (AS) ditutup.

Seorang pejabat Qatar mengatakan kepada Reuters bahwa belum ada gencatan senjata, namun mengulangi bahwa Hamas telah menerima proposal gencatan senjata yang dibuat awal pekan ini secara positif.

Ketegangan di Timur Tengah belakangan ini mendorong kenaikan harga minyak. Serangan pasukan Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah terus berlanjut, sehingga meningkatkan biaya dan mengganggu perdagangan minyak global.

Kelompok Houthi juga mengatakan akan terus melakukan serangan terhadap kapal perang AS dan Inggris dalam apa yang mereka sebut sebagai tindakan membela diri.

Sementara itu, BP PLC (BP.Lon) pada hari Kamis mengatakan pihaknya sedang dalam proses menutup kilangnya yang berkapasitas 435.000 barel per hari (bpd) di Whiting, Indiana, setelah listrik padam. Pemerintah Kota Whiting mengatakan pemadaman listrik memicu kebakaran yang terlihat saat produk-produk dibakar.

Sebelumnya, dua sumber OPEC+ mengatakan kelompok tersebut akan memutuskan pada bulan Maret apakah akan memperpanjang pengurangan produksi minyak secara sukarela untuk kuartal pertama atau tidak, setelah pertemuan panel tingkat menteri tidak membuat perubahan pada kebijakan produksi kelompok tersebut.

OPEC+ saat ini memiliki pengurangan produksi minyak sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari (bpd), yang diumumkan pada bulan November.

Harga minyak telah naik pada awal perdagangan setelah Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada hari Rabu mengatakan suku bunga telah mencapai puncaknya dan akan turun dalam beberapa bulan mendatang, dengan inflasi yang terus turun dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Suku bunga yang lebih rendah dan pertumbuhan ekonomi membantu permintaan minyak.

Powell menolak berjanji bahwa penurunan suku bunga akan dilakukan paling cepat pada pertemuan The Fed pada 19-20 Maret 2024, seperti yang diharapkan investor.

AS juga merilis data pada hari Kamis yang menunjukkan produktivitas pekerja tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal keempat, menjaga unit biaya tenaga kerja tetap terkendali dan memberi The Fed dorongan lagi dalam upaya melawan inflasi.

Manufaktur AS stabil pada bulan Januari di tengah kembalinya permintaan baru, namun inflasi di tingkat pabrik meningkat.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Pasokan Libya Bikin Panas Harga Minyak

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *