Target Pertumbuhan Kredit 2024 Melambat


Jakarta, CNBC Indonesia – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menekan target penyaluran kredit peer to peer (P2P) lending setelah adanya aturan penurunan bunga pinjaman menjadi 0,3% di tahun 2024.

Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar mengatakan, pada tahun 2023, industri pinjaman online (pinjol) p2p lending mencatatkan disbursement atau penyaluran pendanaan sebesar Rp59,6 triliun, atau naik 7% secara year on year (yoy). Sementara di tahun ini, AFPI menargetkan pertumbuhan lebih kecil, yaitu 5%.

“2024 agak berat karena adanya bunga yang diturunkan itu, dari 0,4% ke 0,3% karena pasti yang kita pilih nasabah yang likuid dan bagus tujuannya itu,” kata Entjik kepada wartawan saat ditemui di Jakarta, Rabu, (21/2/2024).

Meski demikian, Entjik menilai, pengurangan bunga ini berimbas baik kepada perubahan sikap masyarakat. Kini, pengguna pinjol ilegal sudah mulai beralih ke p2p lending yang berizin OJK.

Lagi pula, dengan penyaluran kredit yang lebih selektif, pemain di sektor konsumtif pun merasa aturan ini bermadampak ke peringanan cost of fund dari fintech tersebut.

Hal ini pun dirasakan oleh salah satu perusahaan p2p lending PT Pembiayaan Digital Indonesia atau Adakami. Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega optimis p2p lending bisa segera setara dengan multifinance atau leasing.

“Kalau Adakami targetnya sama dengan target tahun lalu di Rp 12 triliun. Kalau industri mudah-mudahan meningkat, kita kan sudah hampir setara dengan multifinance leasing,” ucap Dino di kesempatan yang sama.

Sebagaimana diketahui, Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 19 tahun 2023 tentang Layanan Pendanaan Berbasis Teknologi Informasi menyatakan batas manfaat maksimal atau bunga pinjol P2P untuk sektor produktif adalah 0,1 persen selama 2 tahun per 1 Januari 2024.

Bunga maksimal untuk pinjol P2P untuk sektor konsumtif juga dibatasi menjadi 0,3 persen. Batas ini berlaku selama 1 tahun sejak 1 Januari 2024.

Secara bertahap bunga pinjol P2P harus terus diturunkan. Batas maksimal diturunkan ke 0,2 persen pada 1 Januari 2025 kemudian menjadi 0,1 persen pada 1 Januari 2026.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Dituduh Kartel Bunga Pinjol, AFPI Mau Temui KPPU

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *